Indonesia sudah sangat berlangganan dengan bencana, hampir setiap hari media cetak dan media elektronik tidak absen memberitakan berbagai kejadian bencana, baik bencana alam maupun bencana sosial (man-made). Bagai sudah menjadi makanan sehari-hari, pemberitaan ini sudah sangat tidak asing, banjir, tsunami, letusan gunungapi, tanah longsor, bahkan sampai kepada konflik sosial yang terjadi di beberapa kawasan di Indonesia, khususnya di Aceh yang sedang merekah dengan ‘permasalahan keamanan’ jika tidak ingin disebut sebagai konflik. Indonesia sungguh ladang bencana.
“Sesuatu yang tidak mematikan akan melahirkan ketangguhan” , ungkapan ini kira-kira jika diartikan mnyampaikan pesan bahwa sekiranya bencana yang melanda tidak melepaskan nyawa di badan maka akan memunculkan upaya/perilaku untuk bertahan terhadap bencana tersebut. Jadi tidak dipungkiri, bencana yang datang tidak selalu membawa laknat, murka Tuhan ataupun peringatan. Terkadang dia datang membawa pengetahuan, perubahan dan melahirkan berbagai kebijakan/kearifan.
Ackoff (1989) mengatakan bahwa kearifan merupakan tingkat pemahaman dan kesadaran (consciounsness) yang tertinggi dari manusia, sebagai jawaban terhadap permasalahan manusia yang berada dalam periode waktu tertentu belum terjawab. Dari sumber yang lain Pusat Informasi Bencana Aceh (PIBA) menyebutkan bahwa kearifan lokal merupakan praktek yang dikembangkan oleh kelompok masyarakat, yang berasal dari pemahaman yang mendalam akan lingkungan setempat, yang terbentuk di tempat tersebut secara turun temurun. Mengaitkan pengertian tersebut dengan kebencanaan, maka kearifan merupakan upaya yang efektif dalam mensikapi terhadap pengurangan risiko bencana, salah satunya.
Kearifan Lokal Nusantara
Kesadaran masyarakat terhadap pengurangan risiko bencana semakin tinggi sejak terbukanya mata dunia dengan kedasyatan bencana gempa bumi dan tsunami di kawasan Samudera Hindia pada akhir Desember 2004. Bencana tersebut telah meluluhlantakkan kehidupan di kawasan pesisir, menghilangkan nyawa lebih dari 150.000 jiwa. Namun siapa yang nyana, bencana sedasyat tersebut hanya menelan korban yang dapat dihitung dengan jari di kawasan Pulau Simeulu, yang merupakan daratan terdekat dengan pusat terjadinya gempa bumi tersebut. Sementara di kawasan yang yang letaknya lebih jauh telah menelan korban puluhan ribu jiwa. Menggelitik untuk bertanya, ada ‘keajaiban’ apa di sana?
Melihat dari pengalaman, jumlah korban Simeulu sangatlah minim, tidak banyak korban jiwa yang disebabkan oleh bencana tersebut. Hanya satu kata jawaban dari pertanyaan tadi, yaitu Smong. Smong yang terlahir dari pengalaman bencana sebelumnya dan diturunkan tanpa putus dari generasi ke generasi, dan telah terbukti pada Desember 2004. Ialah sebentuk kearifan lokal yang tidak bisa diabaikan.
Masih dengan tipe bencana yang sama, tsunami, di Gorontalo, satu kata yang telah efektif menyelamatkan jiwa adalah Smolati. Di Jawa Tengah mempunyai Wangon, dimana masyarakat pesisir langsung mencari tempat aman, jika kata tersebut diteriakkan.
Beranjak sedikit ke daratan Aceh, tidak banyak lagi dapat ditemui rumah-rumah Aceh (rumoh Aceh), bentuk rumah panggung yang mulai ditinggalkan. Hasil karya arsitek nenek moyang dahulu ini merupakan suatu adaptasi dengan lingkungan yang rawan banjir dan ancaman binatang buas, mengingat Aceh merupakan kawasan yangn didominasi dengan hutan dan banyak berkeliaran binatang buas di dalamnya.
Sebut lainnya, ada ‘keuneunong’, metode perhitungan bulan versi Aceh ini merupakan metode yang dinilai ampuh dalam memprediksikan masa kering, basah dan berhama dalam usaha pertanian. Keuneunong ini sudah banyak ditinggalkan, dan petani yang dapat memahami sudah sangat langka. Dengan konsep yang hampir sama dengan keuneunong, penanggalan musim dalam Suku Sunda dikenal dengan Kala Sunda, dimana dalam penanggalan tersebut diibaratkan adanya komunikasi dengan alam (Sobirin, 2011).
Pulau Mentawai yang lebih baru dalam memori kebencanaan kita juga mempunyai kearifan lokal dalam meningkatkan kesiapsiagaan bencana. Serupa dengan smong di kawasan ini pengetahuan kebencanaan ditransfer melalui nyanyian Teteu Amusiat Loga. Nyanyian yang lebih banyak dikonsumsi oleh anak-anak ini dengan mudah dapat diingat dan dituruntemurunkan dari generasi ke generasi.
Lain lubuk lain ikannya, lain daerah lain pula kearifan lokalnya. Seperti itu kira-kira dapat digambarkan bagaimana suatu wilayah melahirkan kearifan tersebut dan menurunkan ke generasi berikutnya. Implementasi disesuiakan dan diseleksi secara alamiah berdasarkan kondisi alam, sosial budaya, perilaku/watak dan pemahaman keagamaan/keyakinan.
Media Kearifan Lokal dan Geliatnya
Dengan tidak meninggalkan ‘kearifan’ teknologi seperti sistem peringatan dini (EWS_Early Warning System) yang terus dikembangkan oleh pemerintah dalam upaya mitigasi bencana, kearifan lokal sangat layak untuk dikaji kembali, digali dan dikembangkan dalam kehidupan masyarakat sebagai salah satu upaya mitigasi yang efektif. Kearifan lokal yang pada mulanya tentu saja dikembangkan oleh masyarakat (setempat), demi masyarakat dan untuk masyarakat maka tidak perlu banyak penyesuaian dan sosialiasi dalam implementasinya ke depan. Masyarakat setempat lebih memahami, yang diperlukan adalah bagaimana kearifan tersebut dapat dimanfaatkan secara global, dalam arti kata memperluas manfaat dan ‘pesan’ yang disampaikan dapat tersampaikan.
Media penyampaian tradisional secara general adalah ‘face-to-face’, tutur ke tutur yang disampaikan dengan komunikasi verbal yang ditransfer dalam bentuk nyanyian, hikayat, gurindam ataupun dalam unsur seni. Implementasi lainnya adalah dapat dilihat dalam media sarana komunikasi. Pemanfaatan kentongan analog sama fungsinya dengan SMS pada masa teknologi digital sekarang. Dalam beberapa kawasan, pemakaian kentongan ini masih digunakan sebagai sarana komunikasi kebencanaan.
Sangat banyak media lain yang digunakan sebagai media transformasi pengetahuan kebencanaan seperti bentuk bangunan, pakaian , gaya dan pandangan hidup merupakan penyesuaian dengan hal tersebut. Dengan kondisi Indonesia yang terus menerus digandrungi oleh bencana, maka sudah sepatutnya kesadaran bencana ditingkatkan dengan mengedepankan kearifan lokal.
Dari lokal, untuk global!


